Jumat, 24 Agustus 2012

SPMI Perguruan Tinggi

Menyelengarakan sistem Penjaminan Mutu pada sebuah Perguruan Tinggi bagaikan memakan buah “simalakama”. Implementasi Sistem Penjaminan Mutu Perguruan Tinggi membutuhkan budaya mutu yang tinggi dari para pelaku dalam organisasi itu sendiri. Persyaratan ini berlaku jika ingin Sistem Penjaminan Mutu Perguruan Tinggi itu, berkelanjutan. Keberlanjutan ini merupakan suuatu ancaman terbesar dalam Implementasi Sistem Penjaminan Mutu di Perguruan Tinggi. Potensi ini cukup besar karena Perguruan Tinggi sebagai organisasi yang berisikan ide-ide besar dan ideal dari para pelaku organisasi (dosen-dosen). Kerap terjadi ide-ide tersebut akan menjadi isu-isu utama untuk mengarahkan jalannya organisasi untuk beberapa tahun ke depan. Namun, ketika pencetus ide tidak lagi menduduki sebagai pimpinan maka ide itu hilang dengan sendirinya. Dengan kata lain bahasa sederhana ganti pimpinan ganti kebijakan, ganti metode, ganti prosedur, ganti acara. Mulai dari awal lagi. Capek…… deh..
Akibatnya keberlanjutan suatu kegiatan atau program menjadi sangat rendah. Hal ini sebenarnya, menunjukkan bahwa pengelolaan perguruan tinggi itu bukan diarahkan oleh visi institusi tetapi oleh visi masing-masing pimpinan. Wal hasil keberhasilan yang dicapai hanya untuk diri sang pimpinan bukan keberhasilan secara organisasi. Dengan sistem penjaminan mutu perguruan tinggi hal demikian tidak akan terjadi. Karena sistem ini meletakkan arah organisasi ditentukan oleh visi organisasi itu sendiri bukan oleh visi pimpinannya. Siapapun, pimpinannya jika beliau dapat mengawal dan menyelaraskan semua visi anggota organisasi ke dalam visi organisasi Perguruan Tinggi maka Insya Allah akan tetap berhasil membawa Perguruan Tinggi. Mengakomodasi visi organisasi Perguruan Tinggi ke dalam visi pribadi inilah yang harus dimiliki oleh anggota organisasi sehingga membentuk budaya organisasi dalam diri pelaku-pelakunya. Hal ini tentunya membutuhkan waktu yang lama tidak hanya setahun dua tahun tetapi lebih lama mungkin puluhan tahun. Oleh karena itu dibutuhkan upaya untuk mempercepat dan mempersingkat waktu yang dibutuhkan yaitu dengan menggunakan sistem manajemen mutu. Sistem manajemen mutu, organisasi digerakan dan diarahkan oleh visi organisasi bukan visi pribadi pimpinan. Dengan menjadikan sistem manajemen mutu sebagai landasan sistem manajemen Perguruan Tinggi maka Implementasi Sistem Penjaminan Mutu akan mampu bertahan keberlangsungan dan berkelanjutannya.
Di Perguruan Tinggi, seorang dosen memegang peran  sangat penting bagi kemajuan institusinya. Hal ini telah lama disadari oleh dosen itu sendiri. Kesadaran ini ditunjukkan oleh upaya-upaya pribadi untuk manjadikan dirinya memiliki kompetensi dan kepakaran yang sesuai dengan minat dan bidang yang ditekuni. Dia menjadi terkenal di masyarakat tentang kepakarannya tersebut. Banyak presentasi di berbagai seminar yang semakin menunjukkan kepakarannya sehingga dikenal luas di masyakarat. Adakah kontribusi dosen tersebut terhadap kualitas pembelajaran di perguruan tinggi tempat dosen tersebut bernaung? Jawabnya, ada. Karena perguruan tinggi tempat dosen berasal jadi semakin dikenal luas oleh masyarakat. Banyak mahasiswa yang bangga karena diajar oleh dosen yang sangat terkenal dan dikenal di masyarakat luas. Akhirnya, banyak mahasiswa termotivasi untuk dapat bercita-cita ingin menjadi seorang dosen yang terkenal tersebut. Semakin banyak perguruan tinggi tersebut memiliki dosen-dosen pakar yang terkenal, maka akan banyak mahasiswa yang termotivasi. Kuliah selalu penuh, banyak seminar dan diskusi terjadi. Debat kepakaran antar dosen melingkupi atmosfir akademik di perguruan tinggi tersebut, mahasiswa pun terbawa suasana akademik yang baik tersebut, sungguh sangat membanggakan. Dimana-kah, letak keberhasilan seorang dosen dalam meningkatkan kualitas mahasiswanya?
Melihat dari perkembangan tesebut, saya mencoba mengeluarkan unek-unek melalui tulisan ini (walau saya baru mengalami oo..ternyata menjadi dosen itu..). Entah disadasari atau tidak seorang dosen memiliki ego-akademik yang tinggi, salah satu wujud dari sikap ini adalah adanya “mimbar kebebasan akademik”.  Mengapa, mengatur dosen itu menjadi sangat sulit ? (  mudah-mudahan banyak salahnya ) Itulah jawabannya karena dosen memilki ego-akademis yang tinggi. Aktualisasi seorang dosen jadi dirinya sendiri dengan kepakarannya menjadi tinggi. Kepakaran kadang justru membuat kotak-kotak yang sulit disatukan, walau bernaung dalam perguruan tinggi yang sama. Tidak ada keselarasan tujuan antara visi,misi dan tujuan pribadi dengan visi, misi dan tujuan institusi. Bermula dari disinilah permasalah kualitas perguruan tinggi timbul. Pemahaman visi, misi dan tujuan institusi yang diturunkan dalam sasaran mutu institusi seharusnya dipahami dan dimengerti sehingga menjadi acuan dan arah dari seorang dosen dalam mengabdikan kepakarannya untuk mencapai sasaran mutu perguruan tingginya. Untuk memahamkan pemikiran yang demikian ini tidaklah mudah. Tidak jarang terjadi perdebatan panjang dan menguras energi, sehingga sangat melelahkan ( capek dech..).
Waktu kuliah dulu, dosen terkenal dan populer diluar institusi adalah suatu kebanggaan dan dianggap suatu yang luar biasa (atau dosen biasa diluar?). Namun, katanya di era sekarang ini muncul pameo  baru yang mengatakan “dosen terkenal biasa, mahasiswa terkenal luar biasa”.  Kok bisa...ya ialah..suatu hal yang biasa kalau dosen terkenal, wajar karena jam terbangnya banyak dalam kepakarannya. Namun, jika mahasiswa menjadi terkenal di luar kampus karena prestasinya menjadi suatu hal yang luar biasa. Karena akan menjadi pertanyaan” bagaimana dan dimana  mahasiswa tersebut dalam kuliah, belajar dan siapa yang membimbing sampai bisa berprestasi tersebut? Mungkinkah dosen yang biasa di luar mampu menghasilkan mahasiswa yang berprestasi ? Jika, tidak jawabnya, maka bagaimana dosen bisa meningkatkan kualitas pembelajaran mahasiswa sehingga mampu mencapai sasaran mutu program studi dan perguruan tingginya? Bila, ya jawabnya. Dimanakah letak peran dosen agar mampu meningkatkan kualitas pembelajarannya sehingga peran tersebut memang benar-benar berkaitan langsung dengan pencapaian sasaran mutu perguruan tingginya.
Paradigma Dosen
Peran dosen dalam sistem pembelajaran student center ini, lebih banyak sebagai penyedia jasa pembelajaran  atau provider pembelajaran. Karena peran  provider inilah, maka seorang dosen harus mengubah paradigmanya.  Proveider akan ditinggal oleh customernya jika tidak mampu memenuhi kepuasan dan kebutuhan pelanggannya.  Jasa layanan yang mampu memenuhi kepuasan dan kebutuhan pelanggan disebut jasa yang berkualitas. Agar kualitas layanan terjaga konsistensinya, maka semua proses harus terstandar dalam sebuah sistem. Kualitas jasa pendidikan dan pembelajaran di perguruan tinggi terletak pada tingkat keterserapan lulusan atau alumninya di masyarakat. Jika dosen mampu menyediakan sumber pembelajaran dan mampu menjaga proses penyampaian secara konsisten, sehingga mampu memenuhi kepuasan dan kebutuhan mahasiswanya sesuai yang dijanjikan dalam buku panduan akademik, maka dosen  tersebut dianggap berkualitas dan profesional.   Oleh karena itu, seorang dosen harus memiliki paradigm customer focus, process  systems dan corporate management  result institution.
Corporate management result institution, maksudnya seorang dosen tidak hanya berfokus pada hasil yang diperoleh secara individu tetapi harus berpikir ke arah capaian hasil secara institusi (corporate). Prestasi seorang dosen tinggi secara individu tidaklah  ada artinya jika tidak searah dengan tujuan, misi dan visi institusi. Demikian pula, dalam hal pembelajaran. Seorang dosen harus mampu mengelola mata kuliah yang jadi tanggungjawabnya yang hasilnya diorientasikan kepada capaian sasaran mutu program studi, sasaran mutu fakultas dan pada akhirnya pada sasaran mutu universitas.
Demikian, sekelumit pemikiran peran dosen dalam rangka meningkatkan capaian sasaran mutu perguruan tingginya. Namun, demikian dalam implementasinya perlu memperhatikan kondisi dan kemampuan sumberdaya yang dimiliki oleh perguruan tinggi masing-masing.
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar